Jumat, 25 April 2014

Teori Fisika Hawking, Mengungkap Perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah??

Salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW, adalah diperjalankannya beliau oleh Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.
Banyak yang coba mengungkapkan peristiwa tersebut secara ilmiah, salah satunya melalui Teori Fisika paling mutahir, yang dikemukakan oleh Dr. Stephen Hawking.



Teori Lubang Cacing
Raksasa di dunia ilmu fisika yang pertama adalah Isaac Newton (1642-1727) dengan bukunya: Philosophia Naturalis Principia Mathematica, menerangkan tentang konsep Gaya dalam Hukum Gravitasi dan Hukum Gerak.
Kemudian dilanjutkan oleh Albert Einstein (1879-1955) dengan Teori Relativitasnya yang terbagi atas Relativitas Khusus (1905) dan Relativitas Umum (1907).
Dan yang terakhir adalah Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942), beliau dikenal sebagai ahli fisika teoritis. Ia adalah seorang profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge dan anggota dari Gonville and Caius College, Cambridge.
Dr. Stephen Hawking dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam dan radiasi Hawking. Salah satu tulisannya adalah A Brief History of Time”, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut, suatu periode terpanjang dalam sejarah. Pada tahun 2010 Hawking bersama Leonard Mladinow menyusun buku The Grand Design.
Meskipun mengalami tetraplegia (kelumpuhan) karena sklerosis lateral amiotrofik, namun karier ilmiahnya terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun. Buku-buku dan penampilan publiknya menjadikan ia sebagai seorang selebritis akademik dan teoretikus fisika yang termasyhur di dunia.

penrose1
Roger Penrose memiliki sebuah teori yang namanya akan selamanya dikaitkan dengan raksasa seperti Hawking dan Einstein, Penrose telah membuat kontribusi penting untuk fisika, matematika, dan geometri.  He reinterpreted general relativity to prove that black holes can form from dying starsDia menafsirkan kembali relativitas umum untuk membuktikan bahwa lubang hitam dapat terbentuk dari bintang mati. Dia menciptakan twistor teori - cara baru untuk melihat struktur ruang dan waktu sehingga membawa kita ke pemahaman yang lebih dalam tentang sifat gravitasi.
Berdasarkan teori Roger Penrose:
Bintang yang telah kehabisan bahan bakarnya akan runtuh akibat gravitasinya sendiri dan menjadi sebuah titik kecil dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, sehingga menjadi sebuah singularitas di pusat lubang hitam (black hole).
Dengan cara membalik prosesnya, maka diperoleh teori berikut:
Lebih dari 15 milyar tahun yang lalu, penciptaan alam semesta dimulai dari sebuah singularitas dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, meledak dan mengembang. Peristiwa ini disebut Dentuman Besar (Big Bang), dan sampai sekarang alam semesta ini masih terus mengembang hingga mencapai radius maksimum sebelum akhirnya mengalami Keruntuhan Besar (kiamat) menuju singularitas yang kacau dan tak teratur.
Dalam kondisi singularitas awal jagat raya Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang-waktu yang tak terhingga akan menghasilkan besaran yang tidak dapat diramalkan.
Menurut Hawking, bila kita tidak bisa menggunakan teori relativitas pada awal penciptaan “jagat raya”, padahal tahap-tahap pengembangan jagat raya dimulai dari situ, maka teori relativitas itu juga tidak bisa dipakai pada semua tahapnya. Di sini kita harus menggunakan mekanika kuantum. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta “tanpa pangkal ujung” karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.
Pada kondisi waktu nyata (waktu manusia) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan. Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.
Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui “lubang cacing” (dengan kekuasaan Allah SWT) kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika.
Jadi, dalam pandangan Hawking takdir itu tidak bisa diubah, sudah jadi sejak diciptakannya. Dalam bahasa ilmu kalam:
“Tinta takdir yang jumlahnya lebih banyak daripada seluruh air yang ada di tujuh samudera di bumi telah habis dituliskan di Lauh Mahfudz pada awal penciptaan, tidak tersisa lagi (tinta) untuk menuliskan perubahannya barang setetes.”
Menurut Dr. H.M. Nasim Fauzi, sesuai dengan teori Stephen Hawking, manusia dengan waktu nyatanya tidak bisa menjangkau masa depan dan masa silam. Tetapi bila manusia dengan kekuasaan Allah, bisa memasuki waktu maya (waktu Allah) maka manusia melalui “lubang cacing” bisa pergi ke masa depan yaitu masa kiamat dan sesudahnya, bisa melihat masa kebangkitan, neraka dan shiroth serta bisa melihat surga kemudian kembali ke masa kini, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, sewaktu menjalani Isra’ dan Mi’raj.
Sebagaimana firman Allah:
“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal...” (QS. An Najm [53]:13-15)
Nampaknya dalam mengungkap Perjalanan Isra’, Teori Hawking dengan “Lubang Cacing”-nya, sama logisnya dengan Teori Menerobos Garis Tengah Jagat Raya, namun meskipun begitu, teori Hawking, tidak semuanya bisa kita terima dengan mentah-mentah.
Seandainya benar, Rasulullah diperjalankan Allah melalui “lubang cacing (worm hole)” semesta, seperti yang di-utarakan oleh Dr. H.M. Nasim Fauzi, harus diingat bahwa perjalanan tersebut adalah perjalanan lintas alam, yakni menuju ke tempat yang  kelak dipersiapkan bagi umat manusia, di masa mendatang (surga).
Rasulullah dari masa ketika itu (saat pergi), berangkat menuju surga, dan pada akhirnya kembali ke masa ketika itu (saat pulang). Dan dengan mengambil teladan peristiwa Isra’, kita bisa ambil kesimpulannya, sebagai berikut:
  1. Manusia dengan kekuasaan Allah, dapat melakukan perjalanan lintas alam, untuk kemudian kembali kepada waktu normal.
  2. Manusia yang melakukan perjalanan ke masa depan, namun masih pada ruang dimensi alam yang sama, tidak akan kembali kepada masa silam (sebagaimana terjadi pada Para Pemuda Kahfi).
  3. Manusia sekarang, ada kemungkinan dikunjungi makhluk masa silam, tetapi mustahil bisa dikunjungi oleh makhluk masa depan.
Hal ini semakin mempertegas, semua kejadian di masa depan, hanya dipengaruhi oleh kejadian di masa sebelumnya.
Wallahu a’lamu bisshawab.

Minggu, 20 April 2014

(Perhitungan Matematis) Kecepatan Buraq

Sambil buka arsip lama ternyata ada pembahasan yang menarik, yaitu mengenai "(Perhitungan Matematis) Kecepatan Buraq".. Ini bisa kalian jadikan sebagai pengetahuan yang perlu kita tahu ya.. :)

(Perhitungan Matematis) Kecepatan Buraq

Istilah buraq mungkin berasal dari istilah barqu yang berarti kilat sebagaimana terdapat pada QS. Al-Baqarah [2] : 20.
“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Dengan perubahan istilah barqu menjadi buraq, Nabi Muhammad SAW hendak menyampaikan kepada kita bahwa kendaraannya itu memiliki kecepatan di atas sinar. Suatu kendaraan dengan kecepatan yang sangat jauh meninggalkan teknologi yang sudah kita capai sekarang ini. (Sumber: Isra dan Mi’raj oleh Armansyah, 20 Agustus 2006, http://www.swaramuslim.com).
Berdasarkan penyelidikan, kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300.000 km per detik. Bila diketahui jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil, maka diperlukan waktu dilintasi oleh sinar dalam 8 menit.
Sedangkan untuk menerobos garis tengah jagat raya memerlukan waktu 10 milyar tahun cahaya, dengan melalui galaksi-galaksi, yang selanjutnya menuju kulit bola alam raya. (Sumber: S. Anwar Effendie, Isra’ Mi’raj, Perjalanan Ruang Waktu dalam Kaitannya dengan Penciptaan Alam Raya, Penerbit PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1993).
Bagaimana dengan kecepatan malaikat?
Seperti kita pahami, satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun waktu bumi. Ini ada di dalam QS. Al Ma’aarij [70] : 4.
“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”
Sementara, untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Sidratul Muntaha, dengan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Ilahi, setidaknya diperlukan waktu 10 milyar tahun cahaya (bahkan mungkin lebih dari itu, wallahu a’lam).
Artinya untuk perjalanan tersebut diperlukan waktu seperti perhitungan berikut ini:

1 hari malaikat = 50.000 tahun
200.000 hari malaikat = 10 milyar tahun (cahaya)
200.000 hari = 547,9 tahun (dengan perbandingan 365 hari = 1 tahun)
Berdasarkan data di atas, malaikat memerlukan waktu 547,9 tahun, untuk melintasi jagat raya. Namun pada kenyataannya, malaikat Jibril dalam peristiwa Mi’raj, menghabiskan waktu 1/2 hari waktu bumi (maksimum 12 jam).
Jadi kecepatan buraq, berkali-kali lipat daripada kecepatan kilat, bahkan melebihi kecepatan malaikat sekalipun.
Dengan demikian, wajarlah bila dikatakan, peristiwa Isra’ Mi’raj diperjalankan oleh Allah sebagaimana ditunjukkan dalam QS. Al Isra’ [17] : 1.
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Suatu perjalanan yang digunakan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.


Ilmu yang menarik untuk di baca kawan-kawan semuanya.. :) semoga bermanfaat dan terimakasih kepada sumber-sumber tersebut..

Sabtu, 12 April 2014

Metode Micro-Teaching

Metode micro-teaching

Untuk pertama kalinya saya melakukan pengajaran micro-teaching di salah satu lembaga bimbel, awalnya bingung karena memang sebelumnya saya tidak tahu cara pengajarannya seperti apa maklum masih semester 4. :) Tapi setelah di coba alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan untuk seorang pemula katanya. Dan ini menjadi pengalaman yang baik untuk saya.

Dan untuk teman-teman yang akan menjadi calon guru, harus bisa melakukan pengajaran ini, siapa tau kalian juga akan mengikuti tes-tes untuk menjadi pengajar di salah satu lembaga yang mengharuskan tes micro-teaching ini. :) Mari belajar bersama!!!

Pengertian micro-teaching
Pengertian Micro Teaching secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai pengajaran Kecil, akan tetapi secara khusus Micro Teaching merupakan bentuk kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam usaha menyiapkan mahasiswa atau calon guru melalui kegiatan pengajaran, bimbingan dan latihan secara terprogram dan berkesinambungan guna terciptanya calon guru professional. Kegiatan Micro Teaching ini dilakukan sebagai bagian dari mata kuliah kekhususan bagi jurusan kependidikan agar setelah mereka menyelesaikan studi telah dapat memiliki kemampuan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga profesional guru. Micro Teaching adalah salah satu bentuk kegiatan pendidikan dan pengajaran yang diarahkan untuk membentuk kemampuan keguruan baik bersifat umum dalam bentuk prinsip dan pendekatan yang berlaku untuk keperluan pengajaran, maupun bersifat khusus yaitu teknik serta prosedur yang erat kaitannya dengan hakekat inti bahan ajar tertentu.

Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan salah satu bentuk model praktek kependidikan atau pelatihan mengajar. Dalam konteks yang sebenarnya, mengajar mengandung banyak tindakan, baik mencakup teknis penyampaian materi, penggunaan metode, penggunaan media, membimbing belajar, memberi motivasi, mengelola kelas, memberikan penilaian dan seterusnya. Dengan kata lain, bahwa perbuatan mengajar itu sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dalam rangka penguasaan keterampilan dasar mengajar, calon guru atau dosen perlu berlatih secara parsial, artinya tiap-tiap komponen keterampilan dasar mengajar itu perlu dikuasai secara terpisah-pisah (isolated).

Berlatih untuk menguasai keterampilan dasar mengajar seperti itulah yang dinamakan micro-teaching (pengajaran mikro). Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5-20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3-10 orang. Hal tersebut diungkap oleh Cooper dan Allen, 1971.
Bentuk pengajaran yang sederhana, dimana calon guru atau dosen berada dalam suatu lingkungan kelas yang terbatas dan terkontrol. Hanya mengajarkan satu konsep dengan menggunakan satu atau dua keterampilan dasar mengajar. Konsep pengajaran mikro (micro-teaching) dilandasi oleh pokok-pokok pikiran sebagai berikut :
  1. Pengajaran yang nyata (dilaksanakan dalam bentuk yang sebenarnya) tetapi berkonsep mini.
  2. Latihan terpusat pada keterampilan dasar mengajar, mempergunakan informasi dan pengetahuan tentang tingkat belajar siswa sebagai umpan balik terhadap kemampuan calon guru/dosen.
  3. Pengajaran dilaksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual kelompok usia tertentu.
  4. Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang diselenggarakan dalam laboratorium micro – teaching.
  5. Pengadaan low-threat-situation untuk memudahkan calon guru/dosen mempelajari keterampilan mengajar.
  6. Penyediaan low-risk-situation yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam pengajaran.
  7. Penyediaan kesempatan latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu tertentu.
Tujuan micro-teaching
Tujuan  umum  pengajaran mikro (micro teaching) adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa (calon guru atau dosen untuk berlatih mempraktikan beberapa keterampilan dasar mengajar di depan teman-temannya dalam suasana yang Constructive, supportive, dan  bersahabat. Sehingga mendukung kesiapan mental, keterampilan dan kemampuan performance yang  ter-integrasi untuk beka praktik mengajar Sesungguhnya di sekolah/institusi pendidikan.

Adapun tujuan  khusus  pengajaran mikro 
(micro-teaching) antara  lain sebagai berikut:
  1. Mahasiswa terampil untuk membuat persiapan mengajar.
  2. Membentuk sikap profesional sebagai calon guru/dosen.
  3. Berlatih menjadi guru yang bertanggung jawab dan berpegang kepada Etika keguruan.
  4. Dapat menjelaskan pengertian micro teaching.
  5. Dapat  berbicara  di depan kelas  secara  runtut  dan runut  sehingga mudah dipahami oleh audience atau peserta didik.
  6. Terampil membuka dan menutup pelajaran.
  7. Dapat bertanya secara benar.
  8. Dapat memotivasi belajar siswa/peserta didik.
  9. Dapat membuat variasi dalam mengajar.
  10. Dapat  menggunakan alat-alat/media  pembelajaran dengan benar dan tepat.
  11. Dapat mengamati keterampilan keguruan secara obyektif, sistematis, kritis dan praktis.
  12. Dapat memerankan sebagai guru/dosen, supervisor, peserta didik, maupun sebagai observer dengan baik.
  13. Dapat  menerapkan teori belajar  dan pembelajaran dalam  suasana didaktis,  pedagogis,  metodik  dan andragogis  secara  tepat  dan menarik.
  14. Berlatih membangun rasa percaya diri.
Catatan:
Didaktis/didaktik, pedagogis, metodik dan andragogis semuanya ini bersifat mendidik, dan merupakan metode yanng digunakan dalam pembelajaran.
  • Didaktik berasal dari bahasa Yunani didasko yang asal katanya adalah didaskein atau pengajaran yang berari perbuatan atau aktivitas yang menyebabkan timbulnya kegiatan dan kecakapan baru pada orang lain. Didaktus berarti pandai mengajar, sedang didaktika berarti saya mengajar.
  • Pedagogis adalah ilmu atau seni mengajar anak-anak, proses pembelajaran terpusat pada guru atau pengajar. 
  • Metodik yang berasal dari bahasa Yunani yaitu  metodos yang berarti mengajar, menyeldidiki, cara melakukan sesuatu, prosedur.
  • Andragogis adalah ilmu atau seni mengajar orang dewasa, proses pembelajaran terpusat pada peserta didik.


Sumber: